Dalam kehidupan manusia harus mampu meningkatkan kualitas dirinya
baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan maupun kepribadiannya. Bentuk usaha dalam
meningkatkan kualitas diri itu disebut dengan pendidikan.
Pendidikan pertama kali didapatkan oleh seseorang dilingkungan
keluarganya, dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, peran dari
keluarga sangatlah menentukan keberhasilan seorang anak dalam meningkatkan
kualitas dirinya.
Namun pendidikan di dalam keluarga tidak akan pernah cukup untuk
meningkatkan kualitas diri dari seorang anak, anak harus juga mendapatkan
pendidikan yang lebih luas cakupannya dari luar keluarga.
Sekolah merupakan tempat untuk memfasilitasi anak dalam
mengembangkan kualitasnya dan unsur utama dalam pedidikan di sekolah adalah
peran pendidik atau guru. Dimana guru sebagai fasilitator bagi para peserta
didik dalam memperoleh pengetahuan. Demi menghasilkan peserta didik yang
berkualitas, maka pendidik atau guru sudah sewajarnya mempunyai kapasitas
unggul dalam proses mentransfer pengetahuan kepada para pesera didik.
Dalam proses transfer ilmu ini akan sangat sulit jika tidak adanya
peran dari berbagai pihak l. Demi tercapainya tujuan seperti yang dihadapkan
maka harus adanya kerja sama antara masyarakat serta tenaga kependidikan.
Selain itu didalam struktur internal tenaga kependidikan pun harus dibangun
kerja sama yang baik untuk merealisasikan tujuan tersebut.
Lesson study atau disebut silaturahmi pembelajaran merupakan model
pembinaan profesi pendidik yang digagas oleh Sumar Hendayana, PH.D dan Dr. Aep
Supriatna. Model pembinaan profesi pendidik ini berbasis kearifan lokal Jawa
Barat silih asah, silih asih dan silih asuh. Saling belajar dengan kasih sayang
dan saling peduli.
Dalam penelitian tersebut diugkapkan bahwa para guru memerlukan
pembinaan berkelanjutan untuk meningkatkan kemampuan dalam
repersonalisasi dan sekontektualisasi konten serta memprediksi dan
mengantisipasi respon siswa.
Bagaimana program ini berjalan?
•
Kepala sekolah sebagai leader dalam pembinaan profesi guru, harus
memfasilitasi para guru untuk bermusyawarah seminggu sekali pada hari MGMP
sekolah. Misalnya, hari senin pertemuan guru matematika, sabtu untuk guru olah
raga, dst.. dalam pertemuan tersebut, guru saling berkolaborasi memilih topik
kajian berdasarkan kurikulum, mengkaji materi secara mendalam,
mengkontekstualkan meteri untuk pembelajaran dan antisipasi respon siswa.
• Menjadwalkan guru-guru untuk membuka kelas sesuai jam pelajaran
dan menghadirkan guru-guru yang tidak mengajar pada waktuitu untuk menjadi
observer. Fokus observasi adalah bagaimana siswa belajar bukan pada bagaimana
guru mengajar.
• Setelah pembelajaran maka diadakan diskusi untuk merefleksi efektivitas pembelajaran yang dipandu
oleh kepala sekolah atu pengawas.
•
Kepala sekolah menjadikan kegiatan ini sebagai penjamin mutu
pembelajaran.
Sekolah-sekolah yang konsisten melaksanakan kegiaan Lesson Study (Silaturahmi Pembelajaran)
telah menarik perhatian pengambil kebijakan pendidikan dari mancanegara unuk
berkunjung. Berikut adalah sekolah-sekolah yang menerapkan Lesson Study dan telah dikunjungi oleh pejabat pendidikan dari
mancanegara:
•
SMPN 1 Cisarua Kabupaten Sumedang
•
SD Kencana 3 Kota Bogor
•
SMPN 4 Sumedang
•
SD Gagas Ceria Kota Bandung
•
Sekolah BPI Kota Bandung
Oleh :
Widia
Damayanti
Dikutip dari : Seminar Inovasi Pendidikan (Bandung, 06
Desember 2016)
Bandung, 26
Desember 2016 (Mhyn/A)
